Episode Hujan (yang mencerahkan)

episode-hujan

Bukan karena buku ini karangan teman saya. Episode Hujan memang menyuguhkan kisah menarik dengan penokohan yang detail. Sindirannya pun cerdas!

 Talented Writer with Good Writing

“Hadiah terbaik dari menemukan pasangan yang tepat adalah kita selalu bisa menjadi diri sendiri.”

Kalimat teaser-nya aja udah nendang , apalagi isinya. Sejak pertama kali melihat rangkaian kata sarat makna di bagian sampul buku ini, saya sudah langsung jatuh cinta. Plus, Lucia Priandarini, penulisnya, menjadi faktor yang menambah daftar jaminan mutu bahwa buku ini layak dibaca.  Bukan karena ia kawan baik saya. Tapi, kata demi kata yang ia tuangkan dalam novel setebal 282 halaman ini membuktikan bahwa Lucia jago banget menulis cerita fiksi.

Bercerita tentang Katya, wartawan dengan passion politik yang nyasar bekerja di majalah Lifestyle. Ia adalah gadis berusia 24 tahun dengan segala konflik hidup khas usia seperempat abad. Namun, tidak seperti novel-novel tentang quarter-life-crisis pada umumnya, tokoh Katya digambarkan teguh pendirian dan berprinsip kuat, bukannya menye-menye, plin plan, ataupun rapuh. Hidup Katya juga jauh dari lifestyle metropolitan yang sarat keglamoran maupun kemewahan. Ingar bingar ibukota, tidak lantas membuat Katya lupa membantu sesama, yaitu mengajar anak-anak tak mampu, dan mencari orang hilang. Ya, hidup Katya memang dekat dengan upaya pencarian orang hilang.

Saya enggak akan banyak spoiler di sini, karena akan lebih asyik bila buku ini langsung dinikmati sendiri. Saya pribadi, suka banget sama novel fiksi perdana karya Lucia. Deretan kalimat, diksi yang digunakan, gaya bertutur yang mengalir lancar, serta sindiran tanpa basa-basi namun tepat sasaran, adalah kekuatan buku ini. Bisa dibilang, buku ini Lucia banget! 😀

Sejauh yang saya kenal, begitulah karakter Lucia: cerdas, apa adanya, witty, dan lugas dalam merangkai kata. Bukan karena Lucia kawan baik saya, hingga saya tak bisa berhenti menenggelamkan diri mengikuti kompleksitas hidup Katya dan orang-orang di sekitarnya. Lucia piawai sekali menciptakan karakter. Setiap tokoh di buku ini, digarap sangat detail. Bahkan, setiap nama yang ada, terasa membumi dan mengandung makna: Maximillian Wangge, Banyu Mili, hingga Katya Atiningmas.

Cukup 2 hari saya melahap habis, saat perjalanan PP Jakarta-Surabaya. Di pesawat, ketika penumpang lain tertidur pulas saat take off, saya malah menyalakan lampu baca seolah tak ingin berhenti mencari tahu episode demi episode hidup Katya. Membaca buku ini juga membuat saya larut dalam tawa, karena kisah di beberapa bab seperti mengingatkan saya kepada orang-orang dan momen tertentu.

Yang pasti, suasana kantor majalah Senarai, tempat Katya bekerja, membuat saya terasa seperti ada di rumah. Lalu, karakter Putri yang pernah bercita-cita jadi penyiar berita, atau Leona yang punya prinsip: lebih baik terlambat daripada tidak catokan, sepertinya familiar banget! Hahaha… Yang juga mengundang tawa, adalah cerita tentang narasumber yang diceritakan sudah almarhum, padahal belum meninggal. 😀 Sepertinya saya paham banget ini pengalaman siapa. 😀

Quotable Words

Saya menyukai buku ini, salah satunya karena kebolehan Lucia dalam merangkai kalimat inspiratif. Di tengah tawa dan rasa penasaran menyelami konflik hidup Katya, sampai memberi tanda khusus pada kalimat-kalimat inspiratif. Beberapa yang saya suka, seperti:

“Memberikan hati kepada orang lain itu seperti berangkat perang tanpa membawa perisai. Membuat perasaannya sewaktu-waktu bisa terayunbebas ke kanan dan kiri, seperti pendulum yang digerakkan tangan si manusia terpilih itu.”

“Jika benar pemuda yang berkesempatan duduk di bangku kuliah hanya berjumlah 8% dari seluruh penduduk  negara ini, maka sungguh menyedihkan sarjana yang menyia-nyiakan pendidikannya dengan tidak menjadi ‘orang’”.

Atau kalimat pendek yang nendang ini: “Eagles Fly, Chicken Stay.”

Jujur, di saat saya berada di fase merestart hidup, buku ini seperti memberikan pencerahan melalui kata-kata bagusnya. Saya yang tengah membutuhkan medium penyaluran energi, merasa diingatkan oleh Lucia, bahwa membaca bisa dijadikan katarsis yang memberikan energi positif.

Ah, Rini…. (begitu saya biasa menyapa Lucia),

Benar seperti apa yang kamu tuliskan di halaman pertama Episode Hujan. Bahwa, ‘Membaca adalah bermimpi dengan mata terbuka.’ Buku yang kamu tulis ini seolah memberikanku harapan dan persepktif baru dalam hidup. Yang pasti sih, secara teknis menulis, aku banyak belajar dari karya kamu tentang bagaimana mengemas sebuah karya fiksi sehingga enak dibaca, tanpa meninggalkan idealisme penulisnya.

Buku ini menjadi sangat istimewa di mata aku, karena datang di saat yang tepat. Tujuh belas bab seperti membuka mataku terhadap dunia jurnalisme investigasi, perihnya ditinggalkan orang yang kita sayang, kegamangan saat mencari orang hilang, hingga soal menata hati dan perasaan kepada seseorang yang spesial. You’re a very talented writer, Rin. Aku merasa banyak tercerahkan dengan buku kamu ini. Episode Hujan telah membantuku mengembalikan kesukaan lama yang selama ini terabaikan: membaca.

Congratulation, Rini! I’m a very proud friend, and looking forward to see the upcoming book!

Jakarta,

29 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s